Minggu, 14 Februari 2016

Transit … Transit : Perjalanan panjang dengan transit (Jakarta – Narita – San Francisco - Denver – Mexico)

Nov - Okt 2015 berkesempatan untuk melakukan perjalanan Jakarta - Denver - Mexico 
Sebetulnya ini adalah perjalanan  yang tiba-tiba diset oleh adikku. bersamaan dengan waktuku  menengok anakku yang kuliah di Denver.  Semula aku merasa ragu, karena akan memerlukan tambahan waktu off dari pekerjaan.  Tetapi kata Mexico itu sangat seksi.  Sudah terbayang dalam benak akan ada shoot2 foto baru yang dapat tercapture.  Hmmm, okelah.

Sehingga terjadi trip  Jakarta – Denver – Mexico, dengan transit di Narita dan San Francisco. Tiket  Jakarta – Denver menggunakan mileage dari adikku yang jumlahnya sudah berjibun. Mengurangi beban biaya kan. 

Dalam waktu singkat  mencoba mengurus visa Mexico. Informasi  persyaratannya aku dapatkan dari link yang dikirimkan oleh  kedutaan Mexico. Beres semua,  lalu driverku yang mengantarkan ke kedutaannya.  Ternyata aku tidak memerlukan visa Mexico. Saat itu  alasannya belum  terlalu jelas apakah  karena aku memiliki visa USA, atau karena aku masuk wilayah Mexico melalui USA . Walaupun sudah membaca pernyataan bahwa pemegang visa USA tidak memerlukan visa Mexico, aku masih tetap ragu-ragu.  Oleh karenanya  aku simpan link pernyataannya,  siapa tau  diperlukan .

Ini kali pertama aku  terbang menggunakan United Airlines untuk long trip.  Biasanya hanya penerbangan antar Negara bagian  di USA.   Untuk route ini,  United berkerja sama dengan ANA Airlines.  Yuhuiiii,  mengasyikan.  Aku paling suka toilet di ANA. Bersih, dengan flush dan penghangat dudukan.  Sehingga  toilet itu dinamakan warmlet.

Berangkat Senin pagi.  Pesawat terlambat  terbang hampir 1 jam, karena mengantri untuk take-off.  Dan  ternyata full capacity tempat duduknya .  Jadi ngak bisa deh nyolong tempat duduk kosong untuk tidur  hehehe.  
Semakin tidak tidur karena  bertemu beberapa teman.  Sehingga perjalanan diisi dengan obrolan panjang di pantry belakang pesawat. 

Jakarta – Narita adalah transit pertama
Seharusnya memiliki waktu  2, 5 jam, namun sudah terpotong waktu keterlambatan mengantri di Cengkareng.
Terpaksa berlari untuk penerbangan berikutnya.  Karena masih ada proses body check dan cek barang2 kabin. 
Terkejar waktunya.  Tersisa hanya ¾  jam  sebelum boarding untuk pesawat selanjutnya.   Disempatkan beli  Banana Tokyo dan coklat untuk anak tersayang dan tetangga di Denver.  Antrian panjang untuk membayar makanan yang ngak seberapa ini.  Wuihhh.  Menghabiskan waktu. 
Tiba di gate  langsung boarding untuk Narita – San Fransisco

Berganti dari ANA  ke United.  Sistem antrian masuk penumpang ke dalam pesawat menggunakan zona. Jadi tidak berebutan. Aku mendapat Zona 5, paling akhir



Saat akan take-off, terjadi  lagi antrian  pesawat.
Dengan pengalaman tadi, berarti waktu  transit di San Fransisco juga akan terpotong. 


Kali ini di United mendapatkan bangku  di  sisi pinggir yang seat sebelahnya kosong.



Yah okelah, bisa tidur.  Jenis pesawat ini tidak ada layar pada setiap seat. Entertainment dapat dinikmati melalui personal device.
Syukur-syukur kalau kebetulan bawa laptop atau ipad.  Kalau tidak ya mengandalkan layar seluler.  




Jadi sistemnya dengan mengakses website United Airlines yang bekerja selama perjalanan.  Tadinya aku cukup excited.  Tetapi ternyata banyak pilihan film yang terkunci.



Sepertinya harus mendownload aplikasi United dahulu, sebelum naik pesawat.  Selanjutnya baru bisa mendapatkan akses pada film-film tsb. Hmmm kurang asyik ah. Terlalu canggih atau gimana. Sementara juga batere laptop sudah berkurang terus.

Hal terbaik yang dilakukan ya tidur.

Lebih dari 9  jam perjalanan,  landing safely di SF.
Seharusnya memiliki 3,5 jam sebelum penerbangan berikutnya SF – Denver
Tetapi tersisa tinggal 1,5 jam. Uhuiiiii. 
Karena ini adalah airport pertama masuk USA, maka akan ada proses imigrasi, pengambilan koper, pemerikasaan koper ,  lalu check in bagasi lagi, body check.
Wahhhh.  Senewen juga . Jadi lariiiiii ke imigrasi.   Dengan membawa backpack  dan luggage kecil.   Dan ternyata antri panjang!. Sepertinya tema trip ini "ANTRIAN". 

Kalau tentang memilih jalur antrian, aku paling tidak jago.  Bisa dibilang selalu salah memilih. Hahaha.  Dan ini terjadi.  Terlihatnya masuk dalam antrian yang “benar”, karena hanya sedikit orang di depan. Tetapi lupa memperkirakan bahwa yang mengantri adalah  sekelompok orang Asia yang sudah berumur.  Biasanya mereka kurang bisa atau tidak bisa bahasa Inggris. Jadi prosesnya lama.
Nasib!.  Bukan aku saja yang senewen. Bapak di belakangku juga. Hihihi.

Berhitung waktu terus.  Wah tinggal ½ jam sebelum boarding. Berhasil maju ke interview line.  Hanya ditanya sedikit.  Mungkin karena track record yang sudah bolak balik ke USA.  Pertanyaannya seperti ini : How long it takes from your place to the down town?  Hah?!  Pertanyaan iseng kayaknya.  “40 minutes sir!” . By car, by bus.  Ngak tau maksudnya down town yang mana hahahaha.  Tapi bener ah, kalau mengantar anak ke kampusnya kan di down town, sekitar 40 menit.

Selama tadi menunggu di line up, yang menjadi dilemma adalah :  dideclare atau ngak makanan yang aku bawa. Ini isinya cuma kerupuk bondon ama apa yang dibeli dari Narita itu.  Ditanganku ada 2 form custom declaration. Mana yang dikasih yaaa. Sementara itu di layar banyak sekali muncul peringatan untuk mendeklarasi food. Huahhhh. Masalahnya kan tinggal sebentar waktunya. Kalau dibuka2 lagi gimana.  

Ahh akhirnya kejujuran yang menang.  Dengan mendeclare, masuklah aku pada antrian berikutnya. Hiks.  Pemeriksaan barang.  Dan kejadian lagi. Salah masuk antrian. Kali ini yang memeriksa petugas sudah berumur, yang lamaaaaa sekali  prosesnya.  Tinggal 15 menit lagi.   Untung akhirnya berganti dengan petugas yang muda.  Lega.  Buka koper sebentar,  langsung tutup lagi dan kunci .  Keluar, dengan lari  bagian ke-2.   Ke tempat check-in
Ngak mungkin kan kita ngantri lagi masukin koper  bagian baggage sesuai prosedur.  Di belakangku juga ada serombongan anak muda  Japan yang kebingungan karena waktu boarding pesawatnya mepet.  Dengan muka oonku, aku  tanya ke petugas : “Should I queue? Only 10 minutes left!”  dan ternyata dia bilang  tinggal aja di corner baggage itu.  Nah dia menunjuk satu tempat dengan beberapa baggages di sana.  Hmmm oke, moga2 ngak masalah.  Kutinggal kopernya dengan pasrah.

Sesudahnya lariiiiii lagi masih dengan backpack dan small luggage, berbarengan dengan  rombongan Japan itu.  Sepintas seperti sedang lomba lari hahaha.
Entrancenya masih di ujung. Ya ampunnnn. Mau copot jantung lari2 ngak jelas gini. Dan masih dilakukan lagi pemeriksaan.  Buka jaket, keluarin laptop, buka sepatu.  Untung adrenalinnya udah penuh. Jadi bisa sigap.
Berhasil masuk,  kurang 3 menit sebelum boarding. Woahhhhh. 
Duduk bentar yaaa …  aku masih dapat waktu tambahan untuk tarik napas karena di zona 5.

Duduk sambil merenung : mau nengok anak aja perjuangannya seperti ini. Ada perasaan nelangsa juga sih. Hehehe.
Dan tiba2 terasa lapar sekali. Tapi  sudah tidak ada waktu untuk beli apapun.
Semoga nanti snack yang di pesawat mampu  menghibur perutku

2,5 jam perjalanan.
Dan tibalah dengan selamat di bandara internasional Denver sekitar 5.50 pm.
Rasanya legaaaaaa.
Menyalakan WA :
"Mi sms ya kalo udh smpe. Nanti kita ke target beli adek’s stuff”
“iya kak. Mami di west ya”
“5 menitan lagi mi. di departure ya.  Naik ke atas. Di pintu berapa?”
“British airways”

Menunggu sebentar di pintu keluar




Lalu muncullah si buah hati ini .



Senangnya melihat dia. Rasanya  25 jam 25 menit perjalanan bukan apa-apa lagi.
Semua capek hilang.

Aku punya waktu 2 hari bersama anakku  sebelum terbang ke Mexico dan anakku akan terbang ke Oklahoma untuk merayakan  Thanksgiving bersama keluarga di sana.


Dari trip ini  ada pembelajaran :

1.  Untuk persyaratan visa Mexico,  berikut link yang dikirimkan oleh staf kedutaan Mexico di Jakarta :


Dear Celerina,

To submit all documents necessary regarding Mexican visa applications to the Embassy, you can come from Monday - Friday from 09.00 - 13.00. Please see all the procedures and requirements on our website. Here is the linkhttp://embamex.sre.gob.mx/indonesia/index.php/en/visas

Regards,

Consular Section
Embassy of Mexico


2.  Dari link tersebut  ada form aplikasi 



3.  Bagi pemegang visa USA, tidak diperlukan  Visa Mexico dengan ketentuan sebagai berikut L

Holders of a valid US visa do not need to apply for a Mexican visa to travel to Mexico for up to six months and for non-remunerated activities. The Electronic System for Travel Authorization (ESTA) is NOT considered as a valid US visa for the purpose of travelling to Mexico.


4.   Untuk menghindari kerepotan dan ketergesaan, pilih waktu transit yang cukup panjang, bisa dipertimbangkan  minimal 2,5 jam.  Karena di beberapa bandara Internasional diperlakukan pemeriksaan badan dan juga barang-barang kabin.  Diperlukan waktu yang lebih lama, jika harus melalui imigrasi, terutama USA.  Apalagi jika membawa makanan.  Karena dengan mendeklarasi ada food dalam bawaan kita, petugas imigrasi akan memasukan koper ke dalam scanner pengecekan. Bahkan bisa membuka koper untuk melihat fisiknya.   
Untuk menghemat waktu, jangan menggunakan asesori metal di badan. Karena mesin body check akan berbunyi  saat tubuh melewati. Dan hal ini akan menghabiskan waktu, karena harus mengulang  pengecekan badan.

5.   Jika di imigrasi diperlukan interview, maka pilihlah antrian yang di depannya bisa kita perkirakan orang-orang yang mampu menjawab interview dengan baik.  Misalnya dari segi kemampuan bahasa. 


Semoga poin-poin di atas dapat  membantu mereka yang akan berpergian dengan banyak transit di beberapa bandara Internasional. Tentang trip asyik Mexico, kita ketemu di story selanjutnya ya ... 


#Trip #USA #Transit #FlightEntertainment #UnitedAirlines #VisaMexico 






Senin, 11 Agustus 2014

BERMULA DARI TITIK YANG SAMA





Tahun ini bersyukur dapat mengalami beberapa perjalanan ke berbagai tempat menarik.  Menyenangkan…  Kalau dalam bahasa klisenya : wawasan menjadi bertambahJ . Yang pasti setiap tempat memberikan  kesan tersendiri.

Salah satu perjalanan yang begitu  menorehkan kenangan adalah perjalanan rohani Yerusalem – Palestina.  Menapaki tempat-tempat yang namanya begitu familiar sejak kecil karena ada di  Injil dan percakapan-percakapan harian.  Oh Yesus kecil dulu bermain di sekitar lokasi ini.  Atau rumah Maria dekat dengan Yusuf, sehingga memungkinkan mereka untuk bertemu dan menjadi pasangan.  

Beberapa tempat terletak di Yerusalem – Israel,  sebagian ada di Palestina, seperti  Betlehem dan Hebron.  Perbatasan antara keduanya sangat sederhana. Keluar masuknya tidak rumit. Penjaganya remaja-remaja bersenjata lengkap.  Perubahan pemandangan dari wilayah Jordan – Israel (Yerusalem) – Palestine cukup menarik.  Dari daerah yang berkesan kering, kemudian masuk ke wilayah yang terlihat subur. Lalu beralih kepada wilayah kecil yang agak kumuh.  Tidak berjauhan, tetapi perbedaan itu terasa. 

Ini adalah perjalanan hati.  Dan hati ini berbicara banyak, saat  berada di Bukit Jaitun (Mount of Olives).  Tampak sekitarnya adalah  ribuan kuburan, karena ini merupakan kuburan tertua yang masih dipergunakan.   Dekat bukit Jaitun  terdapat  Taman Getsemani (The Garden of Gethsemane), dimana Yesus berdoa hingga dia ditemukan oleh Yudas Iskariot.  Saat itu Yesus merasa sangat sedih, karena dia dapat mengetahui  bahwa Yerusalem akan hancur.  Dan kesedihannya itu terbukti pada abad ke 6.  

Berdiri di Bukit Jaitun,  memandang tepat ke seberang,  adalah wilayah Al’Aqsa, dengan dua kubah masjid yang megah : Dome of the Rock dan  Masjid Al Aqsa.  Masjid Al Aqsa adalah salah satu tempat suci agama Islam, di mana umat muslim percaya bahwa Nabi Muhammad diangkat ke Sidratul Muntaha dari sini, setelah  sebelumnya dibawa dari Masjid Al-Haram di Mekkah ke Al Aqsa (peristiwa Isra’ Mi’raj).  Jarak dari tempatku berdiri adalah  sepemandangan mata.  Yesus sendiri sehari-hari  selalu melalui  tempat dimana Dome of the Rock berada. 

Yang sepemandangan mata itu mengatakan :
“Semuanya begitu dekat. Semua berasal dari sumber yang sama. 
Lalu mengapa ada perseteruan?”

Lalu esok harinya,  Tuhan memberikan berkat melalui kesempatan masuk ke kompleks Al-Haram Asy-Syarif (Plaza Haram esh Sharif).  Kita adalah rombongan terakhir yang diperkenankan masuk hari itu.  Puji Tuhan. Waktunya tidak panjang,  tetapi aku bisa merasakan kekhusukan itu.  Pertanyaannya bergaung di hati :  
“Apa yang diributkan oleh perseteruan?”
"Karena Tuhan?"
beberapa orang pernah mengatakan : “Tuhan tidak perlu dibela”
Setelah perjalanan hati tsb,  aku meng-amini pernyataan itu. 
Kita bermula dari titik yang sama.
Pasti ada perbedaan.  
Tetapi tidak harus untuk saling menghakimi secara brutal apalagi membunuh dan berperang. 

Kemarin mendengar lagu kolaborasi  kumandang Adzan dan  Ave Maria dari kiriman FB seorang teman.  Akupun menitikkan airmata.  Begitu menyejukan.  Sama seperti apa yang kurasakan saat berdiri di Bukit Jaitun, memandang Al-Haram Asy-Syarif dari kejauhan. 




Dan damai itu seharusnya bisa dirasakan oleh seluruh sanubari ummat, jika semua pihak mengusahakannya. Atau kata toleransi itu memang dipahami maknanya. 









Jumat, 08 Agustus 2014

Saat menjadi seorang Pemilih dengan kategori khusus



Beberapa hari ini aku mulai familiar dengan istilah-istilah DPT, DPTB, Pemilih Tambahan dll.  Semuanya terkait dengan hiruk pikuk PEMILU Presiden dan  tuntutan pasangan capres Probowo  Hatta yang diajukan ke MK.  Salah satu keberatannya adalah banyaknya pemilih tambahan pada TPS-TPS.  Di layar Berita Satu seorang saksi menyatakan adanya tambahan pemilih yang dahsyat di 3 TPS yang sudah dibongkar kotaknya.  Aku tidak begitu jelas apa kriteria  saksi tsb dengan kata “dahsyat”.   Seperti yang dia katakan adanya tambahan 200 orang di TPS sebuah rumah sakit? Apakah itu angka yang berlebihan sehingga memacu kecurigaan adanya kecurangan?  Atau sebenarnya merupakan kesalahan administrasi karena kurangnya pengetahuan semua pihak?

Aku merefer lagi kepada pengalamanku melakukan pemilihan dengan tidak biasa.  Mungkin sebutannya adalah DPT yang melakukan pemilihan di tempat lain tanpa mendaftar terlebih dahulu.  Nah, itu masuk kategori manakah? DPTB, pemilih tambahan atau apa?  Yang pasti aku saat itu tidak memahami semua istilah Pemilu.  Aku hanya ingin menjadi warga Negara yang baik dan turut serta memilih calon pemimpin bangsa. 

1 July 2014
Jakarta
Memeriksa website KJRI New York untuk memastikan tanggal dilakukannya pencoblosan.  Ada!. Dilakukan lebih dini di tgl 5 July.   Anakku sangat senang karena ini akan menjadi momen pertamanya melakukan pemilihan umum.
Memeriksa lagi persyaratannya : bagi yang tidak terdaftar, dapat  hanya membawa passport . Oke. Simple. 
Saat itu suamiku mengatakan, harusnya minta surat dari panitia sini untuk pengantar.  Aku mengatakan tidak perlu, karena di website menyatakan cukup dengan membawa passport. 

4 July 2014
New York
Sekali lagi aku mengecek website KJRI, untuk memastikan jam, tanggal dan tempatnya.  Masih sama.  Tgl 5,  untuk pemilih tambahan datang pada jam tertentu  Aku lupa tepatnya, tetapi perkiraanku adalah setelah semua pemilih terdaftar melakukan penjoblosan.  Sudah terbayang tempatnya Tidak jauh dari  Central Park.

5 July 2014
KJRI New York


Rombonganku (berenam : 4 Pemilih & 2 pengantar) tiba di KJRI.  Ternyata masih ada antrian panjang.  Untuk yang baru datang harus mendaftar ke ruang bawah.  Disana ada petugas  PPLN yang melakukan pendaftaran.  Lumayan penuh di ruang bawah itu.  Tampak beberapa orang sedang berdebat dengan sang petugas.  Lalu selanjutnya aku memberikan passportku.  Dia menanyakan formulir  A5, yaitu formulir yang  merupakan formulir pindah penjoblosan dan ditandatangani oleh panitia di tempat terdaftar awal.  Tentu saja aku tidak punya. Karena memang tidak aku urus.  Website KJRI itu mengatakan passport saja. Wahhh miskom.  Jadi tidak bisa mencoblos?  PPLN dengan tegas mengatakan : TIDAK BISA!
Anakku terlihat sangat kecewa.  Akupun.  Karena momen ini kan sudah direncanakan jauh-jauh hari. Informasi yang menyesatkan itu, menyebabkan peristiwa penting itu tidak akan dijalani. 

Belum habis keherananku, berdatangan beberapa orang lagi dengan kasus yang sama.  Ternyata bukan aku saja!.  Semakin sore semakin banyak orang bernasib serupa, mereka datang sesuai dengan persyaratan jam pencoblosan bagi pemilih tambahan.  Jadi semakin seru. Karena semakin banyak orang, semakin keras kita melakukan protes.  Ini kan hak warga Negara. 
Aku sempat bertanya pada beberapa orang : kenapa sih sekarang ngotot melakukan penjoblosan?  Jawabnya hampir sama : “Tahun ini harus. Karena sekarang berbeda. Saatnya menentukan orang yang benar untuk memimpin Negara kita”.   Jadi berduyun-duyunlah pemilih tambahan itu datang.

Mengapa tidak bisa menjoblos?
Karena tidak ada formulir A5.
Ditakutkan akan bisa dimanipulir dengan melakukan pencoblosan ganda. Setelah dari NYC bisa mencoblos lagi di tempat asal. 

Tentu saja kami memahami alasan  itu. Tetapi pasti ada jalan keluarnya.  Kita kan bukan orang-orang yang bisa dibayar untuk kebutuhan politik tengil
Caranya misalnya dengan memberikan copy KTP, lihat DPT di web KPU, sampai memberikan tiket pesawat kepulangan. 

PPLN mengatakan hanya bisa, jika form A5nya diurus saat ini juga. 
Tentunya tidak mungkin juga,  karena sekarang minggu dini hari waktu Indonesia. Susah   mencari para panitia daerah masing-masing untuk minta dibuatkan A5.

Jadi,  tetap ditolak dengan keras oleh PPLN
Hingga  beberapa calon pemilih naik pitam.


Akhirnya perwakilan calon pemilih meminta untuk disambungkan  dengan KPU Pusat guna meminta kebijakan.

Proses bolak balik ngotot ini sekitar 3 jam lebih.  Hingga berhasil mengajukan solusi yang menurutku dapat dipertanggung jawabkan :
  1. Lihat di daftar KPU, apakah ada namanya disana
  2. Serahkan fotocopy KTP
  3. Tulis TPS asal
Diharapkan dokumen2 ini akan menjadi bahan cross check yang berharga pada saat diperlukan. 

Oke. Deal.  Dengan tambahan persyaratan selama kertas suara masih tersedia.  Cukup adil.  Semua menerima. Keadaan menjadi tenang. 

Masalah lain ternyata di daftar KPU nama anakku tidak muncul.  Dia sedih sekali. Aku bilang, coba saja tetap mendaftar memilih. Toh usianya sudah 17 tahun.  Harusnya datanya sudah tercantum di KPU (tapi seingatku aku belum pernah mendaftarkannya. Aku pikir itu akan berlaku secara otomatis saat membuat E KTP). 
But anyway, anakku itu berhasil untuk mencoblos.  Kami semuapun berhasil. Dan kami merasa sangat lega karena sudah mampu memberikan suara kami untuk kepentingan Negara.



Dari peristiwa ini,  aku ingin memberikan gambaran :
  1. bahwa ada pertambahan jumlah pemilih yang cukup banyak. Tetapi ini bukan rekayasa. 
  2. bahwa  KPU dan PPLN sangat disiplin dengan peraturannya.  Namun karena desakan lapangan yang keras dan argumen yang dapat dipertanggungjawabkan, maka mereka dapat mengabulkan permintaan untuk pengecualian. 
Peristiwa yang sama juga berlangsung di Los Angeles.  Mungkin saking banyaknya peminat, surat suaranya sampai tidak mencukupi. 
Jadi pertambahan ini  bukan sebuah kecurangan yang massive, tetapi karena timbulnya niat memilih yang tiba-tiba menjadi tinggi. 

Kembali ke persidangan MK saat ini, aku tidak berkeinginan untuk memihak .
Tapi di televisi itu, saksi  lebih banyak berasumsi sendiri dengan bahasa-bahasa yang bombastis.  

Yang terakhir, saat kembali ke Jakarta, ternyata di meja tamu tergeletak  3 surat undangan untuk  DPT.  Salah satunya adalah untuk anakku.  Yang ini pasti juga bukan kecurangan, tetapi kegagalan sistem update data peserta pemilu.  Salah satu kelemahan dari keseluruhan sistem pencatatan. 



Catatan ini hanya sebagai  tanggapan pribadi atas apa yang tersaji di layar televisi atau media lainnya perihal kata2 : KECURANGAN PEMILU.