Kamis, 07 Agustus 2014

PROMOSI STASIUN TELEVISI

MENJADI JURU RAMU

DENGAN KESEIMBANGAN OTAK KIRI dan KANAN

Belakangan maraknya kehadiran stasiun televisi, menebar pula maraknya iklan-iklan promosi stasiun televisi tersebut. Perkembangan pertumbuhan televisi yang pesat saat ini menjadikan suatu stasiun televisi tidak lagi hanya menginformasikan program-program mereka dengan bertumpu pada media visual televisi itu sendiri, namun sudah harus menggunakan media komunikasi lainnya. Maka ada istilah promosi on-air dan off -air televisi. Promosi on-air adalah bentuk promosi program ataupun korporat televisi yang ditayangkan di stasiun televisi itu sendiri. Sementara off-air adalah bentuk promosi suatu stasiun televisi yang dilakukan di luar stasiun televisi tersebut, melibatkan media-media komunikasi lainnya.

Kedua aktivitas promosi tersebut merupakan aktivitas pendukung yang dalam kompetisi ketat saat ini memegang peranan penting dan harus dijalankan secara terencana dan terpadu guna menghasilkan efektifitas promosi yang optimal.

Bagaimana cara meramu kedua aktivitas tersebut sementara daur hidup suatu program televisi saat ini dapat dikatakan lebih cepat daripada daur hidup produk lainnya? Bayangkan pula dengan kemampuan yang besar suatu stasiun televisi untuk menghasilkan dan menayangkan program yang hampir serupa dengan program yang dianggap sukses (konsep me too), sehingga strategi program mengharuskan perubahan cepat penempatan dan content program. Atau jika berkaitan dengan pemberitaan yang membutuhkan persiapan waktu tayang instan, tetapi harus dapat pula menangkap audience secara signifikan. Daur hidup promo program sendiri berkisar 3 hingga 7 hari. Ini adalah suatu keunikan industri televisi : daur hidup produk (baca program) yang singkat mengharuskan waktu produksi promosi yang instant serta menghasilkan daur hidup promo yang sangat pendek pula !

ON - AIR PROMO

“On-air promotion continues an existing relationship –reminding your audience why they’re there in the first place, and keep them coming back for more” (Kim Rosenblum – TV Land)



Jika meneropong satu stasiun televisi, akan ada lebih dari 168 program yang tertayang dalam 1 minggu, dengan jumlah total waktu promosi komersial dan non komersial (untuk promo televisi sendiri) +/- 33 jam. Dengan asumsi waktu untuk on air promo 20% dari total watu promosi, maka inventory promo on-air akan ada sekitar 7 jam perminggu. Jumlah ini akan menghasilkan 806 slot on- air durasi 30” . Masih ditambah pula dengan kemampuan televisi menayangkan running text, bumper in – out, dll.
Kondisi – kondisi tersebut membutuhkan kemampuan dan kapasitas peramu dari segi perencanaan media, penyerapan secara cepat dan tepat pesan program, kreativitas visualisasi, penentuan durasi, hingga penempatan spot on- air promo pada slot commercial break

Dengan konsep visualisasi yang menarik, pesan yang tepat dan media plan yang stratejik, diharapkan informasi perihal program dapat terserap oleh audience secara tepat. Sehingga pada saatnya program ditayangkan, dapat menyerap audience yang mampu meningkatkan share dan rating program tersebut.

Selain faktor-faktor di atas, promo on-air juga mengalami tantangan secara internal. Hal ini dikarenakan adanya pemikiran bahwa spot promo on-air selalu dianggap sebagi spot gratisan, maka penghargaan dan tingkat kepentingan dalam menghitung efektivitas pengkomunikasian suatu program menjadi berkurang. Terlebih jika berada pada slot yang telah penuh dengan spot komersial. Pertimbangannya akan jatuh antara mendapatkan pendapatan atau mempromosikan program ?

Namun sebagai orang promosi, sudah seharusnya tantangan-tantangan tersebut dapat diatasi. Perencanaan media harus dilakukan untuk dapat meyakinkan bahwa suatu promo seharusnya juga mendapatkan prioritas sama besar dengan penempatan spot komersil.

Gunakanlah GRPs (Gross Rating Points) untuk perencanaan selain intuisi seorang creative! Sama halnya dengan seorang media planner yang menghitung GRPs untuk klien mereka, maka seorang Juru Ramu On-air Promotion harus mampu membuat hitungan :

Reach x Frekuaensi = GRPs
(Jumlah orang yang melihat spot promo on air x rata-rata frekuensi)

Tentukan berapa GRPs perminggu yang diperlukan untuk promo on-air suatu program sebagaimana yang dituturkan oleh Lee Hunt salah seorang pembicara yang pernah hadir pada  seminar PROMAX BDA Singapore :

We need to use our GRPs wisely avoiding under promoting and over promoting. We need to run a promo just long enough to meet our GRP targets

Sebagai contoh :

Untuk Promo On-air Durasi 30”
Tayangan I

10 ----------> 10 Reach x 1 Freq = 10 GRPs

Rt 10
GRPs 10
Reach 10
Avrg Freq 1.0
Untuk Promo On-air Durasi 30”
Tayangan I Tayangan II
10 6


Rt 10 10
GRPs 10 20
Reach 10 16
Avrg Freq 1.0 1.3

GRPs II = 20

40% dari audiences telah melihat tayangan I
60% dari audiences melihat tayangan II untuk pertama kali

Reach yang dicapai saat ini
10% + 6% = 16 %

Frekuensi =
20 / 16 = 1.3


Tayangan I Tayangan II Tayangan III
10 6 3

Rt 10 10 10
GRPs 10 20 30
Reach 10 16 19
Avrg Freq 1.0 1.3 1,6


GRPs III = 30

70% dari audiences telah melihat tayangan sebelumnya
30% dari audiences melihat tayangan III untuk pertama kali

Reach yang dicapai saat ini
10% + 6% + 3 = 19 %

Frekuensi =
30 / 19 = 1.6


Tayangan I Tayangan II Tayangan III Tayangan IV
10 6 3 2


Rt 10 10 10 10
GRPs 10 20 30 40
Reach 10 16 19 21
Avrg Freq 1.0 1.3 1,6 1.9

GRPs IV = 40

80% dari audiences telah melihat tayangan sebelumnya
hanya 20% dari audiences melihat tayangan IV untuk pertama kali

Reach yang dicapai saat ini
10% + 6% + 3 + 2 = 21 %

Frekuensi =
40 / 21 = 1.9

Dari contoh di atas, hanya dengan 4 kali tayang hampir tidak ada penambahan audiences yang melihat promo on-air tersebut. Kita hanya memperlihatkan materi yang sama secara berulang-ulang kepada audiences yang sama!

Oleh karenanya sangat dibutuhkan penjadwalan promo yang benar kepada audience yang tepat dengan jumlah frekuensi yang tepat pula, walaupun inventory promo on-air yang dipergunakan adalah slot “gratisan”. Dengan analisa-analisa GRPs kemampuan mendebat pentingnya spot promo on-air untuk ditayangkan pada waktu-waktu laris juga semakin kuat. Seperti yang juga diutarakan Lee Hunt dalam bahasa kiasannya “ We need to keep ad sales away from our airtime”


OFF-AIR PROMO



Off–air promo laiknya sebagai tangan gurita yang menerobos audiences. Medianya lebih mengarah kepada publikasi, advertising dan event. Bahkan yang saat ini tengah trend adalah melakukan direct selling ke rumah-rumah.

Tujuan dari promo off-air beragam. Untuk stasiun televisi yang masih baru tentunya lebih mengarah kepada pengenalan korporat televisi itu sendiri.

Mengamati pergerakan aktivitas promosi saat ini konsep joint promotion antar media merupakan salah satu yang diminati oleh para pelaku promo off-air televisi. Dengan konsep barter, sesama media dapat saling mendukung untuk mendapatkan reach audiences sesuai target mereka tanpa biaya yang tinggi. Tentunya dalam menentukan patner dipertimbangkan pula kemampuan penetrasi media bersangkutan, karena walaupun tidak mengeluarkan kas, airing time yang dipergunakan tetap ada kalkulasinya. Sama sebagaimana yang dilakukan oleh on-air promotion, off–air juga melakukan penghitungan untuk mendapatkan cost permile yang kecil dengan reach dan frekuensi yang tinggi.

Untuk event-event besar, umumnya yang menjadi pengendali adalah pihak produksi. Acara dengan biaya besar lebih baik dijadikan salah satu program televisi, yang promosinya dilakukan secara on-air dan off-air .

Efektivitas dari sebuah event dapat ditracking dengan melakukan omnibus riset sebelum dan sesudah event. Namun dengan makin seringnya setiap stasiun televisi melakukan event atau produksi secara outdoor, maka efektitas dalam memelihara loyalitas audiences menjadi menurun. Para pengunjung event pada suatu stasiun televisi juga akan melakukan kunjungan pada event stasiun televisi lainnya.  

Mulailah dilakukan bentuk strategi promosi off-air mengunjungi pemirsa secara langsung.


PERENCANAAN TERINTEGRASI

Paduan strategi on-air dan off–air dalam satu media plan yang terpadu akan membantu pengendalian biaya tanpa mengurangi efektivitasnya. Pada satu program yang membutuhkan treatment on-air lebih heavy, maka off–air dapat diprioritaskan untuk program lainnya. Ataupun sebaliknya. Namun jika memang dibutuhkan kampanye yang besar, maka kedua aktivitas dapat dipergunakan berdasarkan hitungan GRPs yang ingin dicapai.

Oleh karenanya saat ini sudah sepatutnya dikaryakan Juru Ramu promosi stasiun televisi yang mempunyai kemampuan otak kiri dan kanan yang sepadan guna menghasilkan konsep kreatif sekaligus analisis media secara instan dan tepat dalam rangka menghasilkan efek promosi sebagaimana yang diinginkan. 


Penulis pernah bekerja pada : 
1. Lativi 
2. tvOne 
3. alifTV 

ditempatkan pada blog di 2014 setelah ditulis pada 2004. karena dirasa materi masih relevan.



















































Senin, 04 Agustus 2014

MENDAFTAR DRIVING LICENSE & COLORADO ID #untuk Teenager.

Merupakan pengalaman menarik mengikuti proses aplikasi Driving License di Colorado. Mungkin secara  umum, hal ini berlaku pula untuk Negara bagian lainnya di USA. 

Sara  baru genap 17 tahun Mei lalu.  Di Indonesia, dia sudah berhak untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi.  Tetapi karena tidak sempat mengurus,  maka proses ini harus dilalui di USA. 

Ternyata di Colorado untuk usia 17 tahun belum bisa mendapatkan Driving License.  Sepemahamanku, usia minimal adalah 18 tahun.  Sebelum usia itu, yang didapatkan adalah Driving Permit.  Pengemudi tetap dapat mengendarai kendaraan, namun dengan supervisi ketat dari Penjaga (Guardian).   Penjaga bisa orang tua ataupun orang lain yang diberikan kuasa untuk itu.  Usia minimal yang diijinkan untuk memegang Driving Permit ini beragam. Tergantung peraturan setiap Negara Bagian.

Sulitkah untuk mendapatkan Driving Permit?  Sebenarnya tidak, namun harus menyelesaikan beberapa persyaratan.  Diantaranya adalah mengikuti sekolah mengemudi selama 30 jam.  Sekolah ini dapat dilakukan secara on-line atau dengan hadir di kelas. 

Sara didaftarkan  di Boulder Academy, dengan mengambil sistem kehadiran di kelas selama 5 hari untuk 30 jam. Biaya tepatnya aku lupa. Mungkin sekitar $450.

Driving Academy

Mengisi data pendaftaran 

Tanya Jawab:) 

Memasuki ruang kursusnya aku agak terpana.  Isinya anak-anak teenager . Wahh,  di Indonesia mana ada kelas teori seperti ini.  Yang menggelikan adalah kesan ini :  bahwa anak  ABG dimana saja ulahnya sama.  Saat itu terlihat ada yang serius membaca materinya, ada yang melamun, ada yang memandangi jendela dan tentu saja ada yang bermain gadgetnya. Mungkin bosan,  hehehe.   

Suasana kelas
Namun demikian,  keharusan mengetahui detail teori lalulintas dan tata cara berkendara merupakan hal yang serius.  Terutama bagi para anak muda.  Ternyata angka kecelakaan oleh mereka sangat tinggi.  Mabuk, menelpon dan  chatting saat berkendara menempati posisi teratas sebagai penyebabnya. 
Hmmm jadi teringat beberapa peristiwa kecelakaan maut jalan tol Jakarta oleh anak2 para public figure itu .  Mungkin  kewajiban yang seperti ini dapat mengurangi kemungkinan peristiwa2 tragis. 

Selesai mendaftar,  kita ke beralih ke Colorado Dept of Revenue (DOR) Driving License Office - Boulder. Kantor ini dikelola oleh  Division of Motor Vehicle (DMV).  Tujuannya adalah mendaftar untuk mendapatkan Colorado Identity. Identitas ini penting untuk mengurus banyak hal.  Termasuk untuk pembuktian usia seseorang. 



Karena kita datang sudah cukup siang,  maka mendapatkan nomor antrian angka tinggi. N 65. Dalam sistem antrian terbaca waktu tunggu 1 jam. 
Okelah.  Kita tunggu sambil makan siang di restaurant Mexico depan ruang DMV Office.
Ternyata waktu tunggu lebih dari 1 jam.  2,5 jam!
Ya ampunnnn.  Loketnya hanya terlayani oleh 3 orang ditambah 1 supervisor yang merangkap menjadi juru foto identitas. 
Dan 3 petugas ini sudah berumur.
Aku sampai menanyakan mengapa dari banyak kegiatan administrasi ataupun resepsionis yang bekerja adalah orang2 tua?
Ternyata mereka mendapatkan hak kerja yang sama.  Di sini saat melamar tidak dicantumkan berapa usia.  Karena itu akan melanggar hak asasi manusia untuk bekerja dalam kesetaraan. 

Kok nomor antriannya ngak maju2 yaa ...
Pertanyaan lainnya adalah, jika memang banyak sekali orang yang datang, mengapa tenaganya hanya 4 orang?
Satu orang membutuhkan penyelesaian sekitar 30 menit.
Mungkin jawabannya adalah terkait budget.

Pada saat sudah mendapat giliran, kelengkapan administrasi diperiksa.  Sara pendatang,   Tetapi dia akan hidup dengan tante dan oomnya.  Sehingga  disodorkan data2 dari mereka berdua.  Oleh karenanya juga, oomnya sendiri yang mendampingi proses ini.  Untuk  legal keabsahan kehadirannya diperlukan : I94,  F1, I20,  Social Security Number. 
Yang nampak tidak ada adalah :
-       I94.  Namun setelah ditelusuri, ternyata I94nya diadakan secara elektronik, dan datanya memang ada di sistem. Clear. 
-       Social Security Number.  Sara  tidak punya.  Sehingga kita berasumsi tidak diperlukan.

Ternyata  asumsi kita keliru!
Jadi jika tidak bisa mendapatkan Social Security Number,  harus diserahkan surat penolakannya.  Oleh karenanya walaupun sudah menunggu 2,5 jam,  proses tidak dilakukan. Hanya dalam 5 menit sudah ditolak. Hadeuhhhhh. 
Seharusnya persyaratan itu juga dicantumkan di Websitenya!  Petugasnya cuma bilang : “Sorry! I haven't read the website. But this is the rule”
Selamat datang di USA!

Ditolak :) 
Sudah terlalu sore mengejar surat penolakan di Social Security Number  Office  (SSN).  Jadi kita kerjakan keesokan harinya. 

Untungnya hanya membutuhkan waktu tunggu dan proses 15 menit. Selanjutnya kembali ke DMV Boulder.  Menunggu lagi 1,5 jam. Hahahaha. 
Kali ini proses cukup lancar. Biaya administrasinya hanya $10,5. Sara berhasil difoto untuk kartu identitasnya, dan membawa pulang Affidavit of Liability and Guardianship form. 

Form ini adalah  kesediaan akan adanya kewajiban dan pertanggungjawaban orangtua atau penjaga atas segala hal terkait si pengemudi remaja.  Dan harus disahkan oleh notaris. 

The Form 
Panjang yaaaa prosesnya.  Tapi semuanya kita jalani.

Aku sudah pulang ke Jakarta pada saat Sara mengikuti kelas menyupirnya.  Nilai ujiannya tinggi.  Langkah pertama yang baik untuk memenuhi sebuah tanggung jawab.  Seminggu dari saat dia mendaftar,  Colorado ID cardnya sudah keluar.   Yang sedang dalam proses adalah mendaftar untuk Driving Permitnya. Hal ini tidak lancar juga karena ada kesalahan dengan menghilangnya I94 pada sistem imigrasi USA.  Minggu ini akan coba diselesaikan di kantor Imigrasi Bandara Denver.  Kemudian mendaftarkan aplikasi Driver Permitnya di DMV Denver.  Pemegang Driving Permit harus didampingi oleh guardian-nya saat mengemudi.  Kemudian si pendamping akan memberikan catatan dan membubuhkan tandatangan pada form yang disediakan.  

Nanti kalau usianya sudah 18 tahun,  dia sudah berhak untuk mendapatkan Driving License dan bebas mengendarai kendaraan sendiri. 

Dengan segala proses ini,  kita belajar akan berbagai sistem dan prosedur  yang mendetail. Tantenya Sara selalu mengatakan : “Memang awalnya rumit dan susah. Tetapi nantinya akan sangat berguna dan mudah”
Aku percaya akan  pernyataan itu.  
Semoga  dengan segala proses yang dilalui,  Sara bisa menjadi pengemudi remaja yang baik dan bertanggungjawab.

Mengemudi yang baik ya ….
Jangan sambil main iphone! 








Minggu, 03 Agustus 2014

Menyantap KENANGAN


Menurut definisinya, kenangan adalah sesuatu yang membekas.
Bisa berupa kenangan indah atau kenangan pahit. 
Dalam pikiranku, kenangan itu tidak melulu berupa visualisasi gambar dalam benak.  Tapi bisa juga berupa rasa, bau atau apapun yang berkaitan dengan indra manusia. 

Minggu, 4 Agustus 2014  adalah saat aku melintasi jalan Gandawijaya Cimahi. 
Sangat jarang melalui jalan ini sekarang. 
Karena aku memang tidak kerap ke Cimahi. 
Namun jalan ini adalah jalan kenangan saat kecil
Ada visualisasi ayam kuning kurus yang digantung di gerobak-gerobak pinggir jalan pada malam hari.  Membuat Gandawijaya terasa sempit untuk dilalui kendaraan.
Atau toko barang pecah belah yang selalu ramai karena merupakan pusat pembelian barang hadiah kawinan.  Mungkin para pengantin sesudahnya akan menjual hadiah2 tsb pada toko yang sama. 
Masih adakah  fisik kenangan itu ?
Ayam kuning tidak tampak,  karena aku melalui jalan ini di siang hari.
Toko pecah belah itu, aku sudah lupa namanya.  Mungkin masih terselip diantara toko-toko baru.  Tapi apakah masih bertahan dengan kebiasaan baru pengantin yg memohon undangan untuk memberikan kado “mentahan”.

Mencapai pertengahan jalan, ada yang menggugah.  
Diujung gang, masih terpampang satu tulisan besar “EKA SARI”
Wahhhh …  nama itu beberapa kali muncul dalam percakapanku dengan seorang teman dekat.  
Kita suka berandai-andai untuk makan disana lagi.
Langsung visualisasinya  terpampang dalam benak : Ayam goreng mentega, puyunghai, capcay …  Hmmm    menu2 China klasik.  
Diikuti dengan kenangan rasa .. masih sangat jelas dalam ingatan
Lalu hadir lagi  saat-saat bersama bapak, ibu,  adik2,  makan di restoran kecil memanjang itu.   Berapa puluh tahun lalu yaaaa …
Semoga signage sederhana itu menandakan bahwa EKA SARI masih ada. 

Pulang dari pertemuan dengan teman-teman lama, aku langsung mengarahkan tujuan ke gang kecil dekat gandawijaya itu.  Sambil berharap EKA SARI masih eksis, dan tidak tutup pada sore ini. 

Ternyata terkabul! 


Masih beroperasi dengan ruang yang lebih luas dan pemilik yang sama.
Wahhhh amazing …



Pesanan tentu saja langsung diorderkan : 3 menu itu. 
Cukup lama juga sih penantian akan makanannya.  
(kalau di resto sendiri pasti aku sudah ke dapur  dan bertanya kenapaaaaa lama).
Dan ternyata yang keluar adalah porsi yang besar-besar.  Sampai melongo …  hahahaha. 

Bagaimana makannya yaaa …
Ahh yang penting sudah mencicipi lagi.  Sisanya bisa dibawa pulang.

Rasa ayam menteganya masih sama hahahhaa.
Dulu kita menganggap ini luarbiasa.  
Tetapi karena sekarang sudah banyak pilihan makanan dan punya warung sendiri,  maka sudah  bisa mengkritik soal tekstur dan rasa.
Garing, namun terlalu keras.  Warnanya juga tidak cantik. Cenderung hitam.
Tapi aku sukaaaa …  Ini bukan sekedar hal enaknya ayam mentega.
Ini adalah sebuah pengalaman masuk dalam sang KENANGAN. 



Puyunghai ada 4 potongan besar.  Tak berubah. 
Lebih enak daripada puyunghai joglo yang terakhir aku beli. 




Capcaynya tidak aku coba,  dibawa pulang untuk Ibu sahabatku. 
Dan saat dibuka dirumah, isinya memenuhi setengah panci ukuran sedang. Hihihi. 

Total pembeliannya  175 ribu.  Bukan makanan yang murah juga.
Tapi porsinya memang besar.

Dan aku sangat senang berhasil memuwujudkan cita-cita percakapan andai-andai. 

Terakhir,  mengirimkan foto2 makanan itu ke adikku di Denver.  Lalu responnya adalah : MAUUUUUU …  masih inget rasanya!

Wahhh kuat sekali kan kenangan itu.  




Kamis, 31 Juli 2014

MEMASUKI USA dan PEMBARUAN SISTEM I94



Perjalanan terakhir ke USA di July 2014 lalu,  menyisakan kesan tentang kemudahan administrasi di Imigrasi USA.  Biasanya kita harus mengisi data-data pada sebuah form,  menyerahkan sebagian data tsb pada petugas imigrasinya, lalu menyimpan sebagian data lainnya untuk diberikan pada petugas imigrasi pada saat akan keluar dari USA.  Kadang kala, sobekan sisa data itu menghilang, sehingga harus mengaduk-aduk tas untuk mencari.  Kalau tidak ketemu, harus mencari form baru dan mengisi ulang. Aku selalu menyebutnya sebagai form data masuk – keluarJ

Kembali ke July 2014. 
Mengantar Sara untuk bersekolah di Denver, kita memasuki USA melalui JFK, New York.   Mendekati waktu pendaratan,  pramugari Qatar hanya memberikan custom declaration form. Aku menanyakan tentang form masuk – keluarnya, dan dia jawab tidak perlu.  “Oh good.  Sama dengan WNI keluar masuk Indonesia.  Tanpa Form”.

Saat di Imigrasipun  petugas tidak terlalu tegang. Dia lebih banyak berbincang santai dengan Sara tentang sekolah dan I20nya. Mungkin karena record kita ke USA juga baik, sehigga  hanya membutuhkan  5 menit untuk memproses imigrasi kita sekeluarga (berempat) sekaligus  mencek I20.  Seperti biasa, ada cap masuk pada paspor masing-masing.  Lancar …





Isu tentang I94 ini keluar saat Sara mulai mengurus administrasi untuk Colorado ID di Boulder,  Colorado.  Mereka minta form I94. Dan aku bilang  Sara tidak punya. Aku berpikir keras, apa yang keliru dari listku. Kecuali security number, rasanya semua sudah lengkap. Terimakasih untuk teknologi, melalui smart phone, kita mencari tahu apa sebenarnya I94 itu.  Dan ternyata I94 adalah form masuk keluar imigrasi, mencatat keberadaan pendatang di USA.  Sejak setahun terakhir, pemerintah tidak mengeluarkan lagi form tsb,  tetapi mempergunakan sistem elektronik.  Datanya dapat diambil dan diperlihatkan melalui smart phone. Ternyata si petugaspun tidak mengetahui pembaharuan sistem ini. 
Setelah memperlihatkan data I94,  masalahpun clear,  Colorado ID berhasil diproses (seminggu kemudian sudah jadi).

Saat kepulangan tiba.  Sara tetap tinggal di Denver.  Agustus dia sudah mulai kuliah.  Tetapi tiket kepulangan Sara sudah terlanjur dibelikan (saat membelinya aku secara otomatis membelikan tiket pp). Jika diopen harus menambahkan sekitar $750, dan hanya berlaku hingga Desember 2014.  Sara  sudah memutuskan tidak akan pulang ke Indonesia di December ini.  Sayang juga ya kalau tidak terpakai,  Bagaimana kalau tetap dilakukan online check-in  agar tempat duduknya  tidak dijual kepada orang lain lalu bisa dipergunakan untuk adeknya tiduran. Atau siapa tahu Sara berubah pendapat dan masih mau pulang lagi ke Jakarta?  Lalu aku lakukan online check-in atas nama Sara.

Di imigrasi JFK,  aku mengalami keheranan lagi.  Kita melalui imigrasi, tetapi tidak dilakukan proses cap paspor.  Petugas tidak berada pada meja box angker itu lagi.  Dia berdiri dan memeriksa paspor serta tiket.  Kemudian kita masuk ke proses body check.  Aku sampai bertanya ke suamiku : “Lho proses imigrasinya sudah?”. 

Saat terakhir pemeriksaan manifes penumpang di dalam pesawat, pramugara menanyakan apakah Sara ada?.  Suamiku menjawab dia tidak jadi ikut.  Dari situ kita sudah merasa lega karena semua sudah berjalan lancar dan kita siap untuk pulang ke Jakarta. 

Isu berikutnya justru muncul beberapa hari belakangan, sesudah aku berada 2 minggu di Jakarta.  Saat Sara mengurus driving license, ternyata I94nya sudah tidak ada pada sistem. Di sana tercatat Sara sudah keluar dari USA pada 12 July 2014.  Padahal sesungguhnya fisik Sara masih di Denver. 
Setelah ditelusuri ternyata proses baru ini ini memang mudah, tetapi juga menggantungkan data kepada data carrier.  Saat itu I94 sudah ditarik, karena Sara sudah melakukan check-in online untuk penerbangan QR 702.  Dengan check-in pesawat, Sara sudah dianggap pergi dari USA.   Jadi data manifes terakhir tidak diupdatekan oleh pihak Qatar kepada Imigrasi USA. 

Untuk menyelesaikannya,  dibutuhkan klarifikasi dan interview dengan pihak imigrasi dan dmv USA. Tentunya hal  ini membutuhkan banyak waktu lagi untuk mengurusnya.  Semuanya terjadi karena ketidak tahuan semata.
Namun demikian dari semua kejadian ini memberikan pelajaran dan pengetahuan tentang sistem baru imigrasi USA.  Disimpulkan bahwa data masuk pendatang melalui imigrasi (dicap paspor, sidik jari, interview),  data keluar melalui data dari carrier (penerbangan / kapal), tanpa cap lagi di paspor.  

Pagi ini aku email Qatar Indonesia untuk memberikan data manifes penumpang terbaru QR702, 12 July 2014,  kepada Imigrasi USA.  Semoga mendapat respon yang baik.  Menghubungi Qatar Indonesia bukanlah hal yang mudah melalui telepon.  Berdasarkan pengalaman,  kita menelpon nomor kantornya bisa puluhan kali dan tidak ada yang mengangkat. Sampai akhirnya melalui mr Google berhasil mendapatkan alamat email kantornya.  Saat kita mengirimkan email, akan ada petugas yang menelpon kita sebagai bentuk  respon mereka. 

Semoga semua dapat terselesaikan dengan baik.  Sehingga keberadaan Sara disana dapat tercatat dan pengurusan berbagai administrasi dapat terselesaikan tepat waktu. 

Terimakasih kepada om Eric dan tante Ucie yang banyak meluangkan waktu untuk mengurus kakak Sara.  Pengambil alihan peranan orang tua sudah mulai berjalan J . Selamat menjadi orang tua. 


Update terakhir jawaban dari pihak Qatar Airlines (hanya berselang 3 jam dari pengiriman emailku) 


Dear Ibu Celerina,

Terima kasih atas emailnya,

Untuk status reservasi atas nama Ibu Sara marsintauli saat ini sudah tidak aktif sebab Ibu Sara tidak berangkat pada tanggal 12Jul dari JFk-CGK via Doha dan data di electronic tiketnya ibu Sara
Juga masih tertera tanggal 12Jul dengan rute JFK-CGK, tiket tersebut masih bisa digunakan sampai dengan tanggal 01Sep. detail sbb :

TKT-1572312950857        RCI-                     1A  LOC-4MPAJL               
 OD-JKTJKT  SI-      FCMI-N   POI-JKT  DOI-18APR14  IOI-15824830               
   1.MARSINTAULI/SARA MISS     ADT            S I                              
 1 OCGK QR 955   Q 02JUL0010 OK QPFRID        F        01SEP 2PC               
 2 XDOH QR 701   Q 02JUL0815 OK QPFRID        F        01SEP 2PC               
 3 OJFK QR 702   Q 12JUL2300 OK QPFRID        O   05JUL01SEP 2PC               
 4 XDOH QR 956   Q 14JUL0125 OK QPFRID        O   05JUL01SEP 2PC               
    CGK                                                                        
FARE   I               IT                                                       
TOTALTAX USD       470.50                                                      
TOTAL                  IT                                                      
/FC JKT QR X/DOH QR NYC M/IT QR X/DOH QR JKT M/IT END XF JFK4.5                 
FE PAX VALID QR SERVICES ONLY NONEND / JKTP091 -BG QR/4MPAJL1704               
14                                                                             
FP CCCAXXXXXXXXXXXX3305/1215/N801904                                           
FT JKTP084                                                                     
NON-ENDORSABLE                                                                 
FOR TAX/FEE DETAILS USE TWD/TAX                                                
NET REPORTING IT/BT                                                            
SAC-MULTI/USE TWH

          
Status tiket tersebut menyatakan masih “O” yang mana itu artinya adalah tiket masih belum digunakan.
Berikut update terbaru dari kami.


Best regards,

Andy Jaya Setianto
Sr. Reservation Ticketing Agent

Tel : +62 21 2358 0622
Fax: +62 21 2358 0611

World's 5-star ariline.qatarairways.com

Terimakasih Qatar,  semoga datanya dapat diteruskan ke Imigrasi USA.