Senin, 04 Agustus 2014

MENDAFTAR DRIVING LICENSE & COLORADO ID #untuk Teenager.

Merupakan pengalaman menarik mengikuti proses aplikasi Driving License di Colorado. Mungkin secara  umum, hal ini berlaku pula untuk Negara bagian lainnya di USA. 

Sara  baru genap 17 tahun Mei lalu.  Di Indonesia, dia sudah berhak untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi.  Tetapi karena tidak sempat mengurus,  maka proses ini harus dilalui di USA. 

Ternyata di Colorado untuk usia 17 tahun belum bisa mendapatkan Driving License.  Sepemahamanku, usia minimal adalah 18 tahun.  Sebelum usia itu, yang didapatkan adalah Driving Permit.  Pengemudi tetap dapat mengendarai kendaraan, namun dengan supervisi ketat dari Penjaga (Guardian).   Penjaga bisa orang tua ataupun orang lain yang diberikan kuasa untuk itu.  Usia minimal yang diijinkan untuk memegang Driving Permit ini beragam. Tergantung peraturan setiap Negara Bagian.

Sulitkah untuk mendapatkan Driving Permit?  Sebenarnya tidak, namun harus menyelesaikan beberapa persyaratan.  Diantaranya adalah mengikuti sekolah mengemudi selama 30 jam.  Sekolah ini dapat dilakukan secara on-line atau dengan hadir di kelas. 

Sara didaftarkan  di Boulder Academy, dengan mengambil sistem kehadiran di kelas selama 5 hari untuk 30 jam. Biaya tepatnya aku lupa. Mungkin sekitar $450.

Driving Academy

Mengisi data pendaftaran 

Tanya Jawab:) 

Memasuki ruang kursusnya aku agak terpana.  Isinya anak-anak teenager . Wahh,  di Indonesia mana ada kelas teori seperti ini.  Yang menggelikan adalah kesan ini :  bahwa anak  ABG dimana saja ulahnya sama.  Saat itu terlihat ada yang serius membaca materinya, ada yang melamun, ada yang memandangi jendela dan tentu saja ada yang bermain gadgetnya. Mungkin bosan,  hehehe.   

Suasana kelas
Namun demikian,  keharusan mengetahui detail teori lalulintas dan tata cara berkendara merupakan hal yang serius.  Terutama bagi para anak muda.  Ternyata angka kecelakaan oleh mereka sangat tinggi.  Mabuk, menelpon dan  chatting saat berkendara menempati posisi teratas sebagai penyebabnya. 
Hmmm jadi teringat beberapa peristiwa kecelakaan maut jalan tol Jakarta oleh anak2 para public figure itu .  Mungkin  kewajiban yang seperti ini dapat mengurangi kemungkinan peristiwa2 tragis. 

Selesai mendaftar,  kita ke beralih ke Colorado Dept of Revenue (DOR) Driving License Office - Boulder. Kantor ini dikelola oleh  Division of Motor Vehicle (DMV).  Tujuannya adalah mendaftar untuk mendapatkan Colorado Identity. Identitas ini penting untuk mengurus banyak hal.  Termasuk untuk pembuktian usia seseorang. 



Karena kita datang sudah cukup siang,  maka mendapatkan nomor antrian angka tinggi. N 65. Dalam sistem antrian terbaca waktu tunggu 1 jam. 
Okelah.  Kita tunggu sambil makan siang di restaurant Mexico depan ruang DMV Office.
Ternyata waktu tunggu lebih dari 1 jam.  2,5 jam!
Ya ampunnnn.  Loketnya hanya terlayani oleh 3 orang ditambah 1 supervisor yang merangkap menjadi juru foto identitas. 
Dan 3 petugas ini sudah berumur.
Aku sampai menanyakan mengapa dari banyak kegiatan administrasi ataupun resepsionis yang bekerja adalah orang2 tua?
Ternyata mereka mendapatkan hak kerja yang sama.  Di sini saat melamar tidak dicantumkan berapa usia.  Karena itu akan melanggar hak asasi manusia untuk bekerja dalam kesetaraan. 

Kok nomor antriannya ngak maju2 yaa ...
Pertanyaan lainnya adalah, jika memang banyak sekali orang yang datang, mengapa tenaganya hanya 4 orang?
Satu orang membutuhkan penyelesaian sekitar 30 menit.
Mungkin jawabannya adalah terkait budget.

Pada saat sudah mendapat giliran, kelengkapan administrasi diperiksa.  Sara pendatang,   Tetapi dia akan hidup dengan tante dan oomnya.  Sehingga  disodorkan data2 dari mereka berdua.  Oleh karenanya juga, oomnya sendiri yang mendampingi proses ini.  Untuk  legal keabsahan kehadirannya diperlukan : I94,  F1, I20,  Social Security Number. 
Yang nampak tidak ada adalah :
-       I94.  Namun setelah ditelusuri, ternyata I94nya diadakan secara elektronik, dan datanya memang ada di sistem. Clear. 
-       Social Security Number.  Sara  tidak punya.  Sehingga kita berasumsi tidak diperlukan.

Ternyata  asumsi kita keliru!
Jadi jika tidak bisa mendapatkan Social Security Number,  harus diserahkan surat penolakannya.  Oleh karenanya walaupun sudah menunggu 2,5 jam,  proses tidak dilakukan. Hanya dalam 5 menit sudah ditolak. Hadeuhhhhh. 
Seharusnya persyaratan itu juga dicantumkan di Websitenya!  Petugasnya cuma bilang : “Sorry! I haven't read the website. But this is the rule”
Selamat datang di USA!

Ditolak :) 
Sudah terlalu sore mengejar surat penolakan di Social Security Number  Office  (SSN).  Jadi kita kerjakan keesokan harinya. 

Untungnya hanya membutuhkan waktu tunggu dan proses 15 menit. Selanjutnya kembali ke DMV Boulder.  Menunggu lagi 1,5 jam. Hahahaha. 
Kali ini proses cukup lancar. Biaya administrasinya hanya $10,5. Sara berhasil difoto untuk kartu identitasnya, dan membawa pulang Affidavit of Liability and Guardianship form. 

Form ini adalah  kesediaan akan adanya kewajiban dan pertanggungjawaban orangtua atau penjaga atas segala hal terkait si pengemudi remaja.  Dan harus disahkan oleh notaris. 

The Form 
Panjang yaaaa prosesnya.  Tapi semuanya kita jalani.

Aku sudah pulang ke Jakarta pada saat Sara mengikuti kelas menyupirnya.  Nilai ujiannya tinggi.  Langkah pertama yang baik untuk memenuhi sebuah tanggung jawab.  Seminggu dari saat dia mendaftar,  Colorado ID cardnya sudah keluar.   Yang sedang dalam proses adalah mendaftar untuk Driving Permitnya. Hal ini tidak lancar juga karena ada kesalahan dengan menghilangnya I94 pada sistem imigrasi USA.  Minggu ini akan coba diselesaikan di kantor Imigrasi Bandara Denver.  Kemudian mendaftarkan aplikasi Driver Permitnya di DMV Denver.  Pemegang Driving Permit harus didampingi oleh guardian-nya saat mengemudi.  Kemudian si pendamping akan memberikan catatan dan membubuhkan tandatangan pada form yang disediakan.  

Nanti kalau usianya sudah 18 tahun,  dia sudah berhak untuk mendapatkan Driving License dan bebas mengendarai kendaraan sendiri. 

Dengan segala proses ini,  kita belajar akan berbagai sistem dan prosedur  yang mendetail. Tantenya Sara selalu mengatakan : “Memang awalnya rumit dan susah. Tetapi nantinya akan sangat berguna dan mudah”
Aku percaya akan  pernyataan itu.  
Semoga  dengan segala proses yang dilalui,  Sara bisa menjadi pengemudi remaja yang baik dan bertanggungjawab.

Mengemudi yang baik ya ….
Jangan sambil main iphone! 








Minggu, 03 Agustus 2014

Menyantap KENANGAN


Menurut definisinya, kenangan adalah sesuatu yang membekas.
Bisa berupa kenangan indah atau kenangan pahit. 
Dalam pikiranku, kenangan itu tidak melulu berupa visualisasi gambar dalam benak.  Tapi bisa juga berupa rasa, bau atau apapun yang berkaitan dengan indra manusia. 

Minggu, 4 Agustus 2014  adalah saat aku melintasi jalan Gandawijaya Cimahi. 
Sangat jarang melalui jalan ini sekarang. 
Karena aku memang tidak kerap ke Cimahi. 
Namun jalan ini adalah jalan kenangan saat kecil
Ada visualisasi ayam kuning kurus yang digantung di gerobak-gerobak pinggir jalan pada malam hari.  Membuat Gandawijaya terasa sempit untuk dilalui kendaraan.
Atau toko barang pecah belah yang selalu ramai karena merupakan pusat pembelian barang hadiah kawinan.  Mungkin para pengantin sesudahnya akan menjual hadiah2 tsb pada toko yang sama. 
Masih adakah  fisik kenangan itu ?
Ayam kuning tidak tampak,  karena aku melalui jalan ini di siang hari.
Toko pecah belah itu, aku sudah lupa namanya.  Mungkin masih terselip diantara toko-toko baru.  Tapi apakah masih bertahan dengan kebiasaan baru pengantin yg memohon undangan untuk memberikan kado “mentahan”.

Mencapai pertengahan jalan, ada yang menggugah.  
Diujung gang, masih terpampang satu tulisan besar “EKA SARI”
Wahhhh …  nama itu beberapa kali muncul dalam percakapanku dengan seorang teman dekat.  
Kita suka berandai-andai untuk makan disana lagi.
Langsung visualisasinya  terpampang dalam benak : Ayam goreng mentega, puyunghai, capcay …  Hmmm    menu2 China klasik.  
Diikuti dengan kenangan rasa .. masih sangat jelas dalam ingatan
Lalu hadir lagi  saat-saat bersama bapak, ibu,  adik2,  makan di restoran kecil memanjang itu.   Berapa puluh tahun lalu yaaaa …
Semoga signage sederhana itu menandakan bahwa EKA SARI masih ada. 

Pulang dari pertemuan dengan teman-teman lama, aku langsung mengarahkan tujuan ke gang kecil dekat gandawijaya itu.  Sambil berharap EKA SARI masih eksis, dan tidak tutup pada sore ini. 

Ternyata terkabul! 


Masih beroperasi dengan ruang yang lebih luas dan pemilik yang sama.
Wahhhh amazing …



Pesanan tentu saja langsung diorderkan : 3 menu itu. 
Cukup lama juga sih penantian akan makanannya.  
(kalau di resto sendiri pasti aku sudah ke dapur  dan bertanya kenapaaaaa lama).
Dan ternyata yang keluar adalah porsi yang besar-besar.  Sampai melongo …  hahahaha. 

Bagaimana makannya yaaa …
Ahh yang penting sudah mencicipi lagi.  Sisanya bisa dibawa pulang.

Rasa ayam menteganya masih sama hahahhaa.
Dulu kita menganggap ini luarbiasa.  
Tetapi karena sekarang sudah banyak pilihan makanan dan punya warung sendiri,  maka sudah  bisa mengkritik soal tekstur dan rasa.
Garing, namun terlalu keras.  Warnanya juga tidak cantik. Cenderung hitam.
Tapi aku sukaaaa …  Ini bukan sekedar hal enaknya ayam mentega.
Ini adalah sebuah pengalaman masuk dalam sang KENANGAN. 



Puyunghai ada 4 potongan besar.  Tak berubah. 
Lebih enak daripada puyunghai joglo yang terakhir aku beli. 




Capcaynya tidak aku coba,  dibawa pulang untuk Ibu sahabatku. 
Dan saat dibuka dirumah, isinya memenuhi setengah panci ukuran sedang. Hihihi. 

Total pembeliannya  175 ribu.  Bukan makanan yang murah juga.
Tapi porsinya memang besar.

Dan aku sangat senang berhasil memuwujudkan cita-cita percakapan andai-andai. 

Terakhir,  mengirimkan foto2 makanan itu ke adikku di Denver.  Lalu responnya adalah : MAUUUUUU …  masih inget rasanya!

Wahhh kuat sekali kan kenangan itu.  




Kamis, 31 Juli 2014

MEMASUKI USA dan PEMBARUAN SISTEM I94



Perjalanan terakhir ke USA di July 2014 lalu,  menyisakan kesan tentang kemudahan administrasi di Imigrasi USA.  Biasanya kita harus mengisi data-data pada sebuah form,  menyerahkan sebagian data tsb pada petugas imigrasinya, lalu menyimpan sebagian data lainnya untuk diberikan pada petugas imigrasi pada saat akan keluar dari USA.  Kadang kala, sobekan sisa data itu menghilang, sehingga harus mengaduk-aduk tas untuk mencari.  Kalau tidak ketemu, harus mencari form baru dan mengisi ulang. Aku selalu menyebutnya sebagai form data masuk – keluarJ

Kembali ke July 2014. 
Mengantar Sara untuk bersekolah di Denver, kita memasuki USA melalui JFK, New York.   Mendekati waktu pendaratan,  pramugari Qatar hanya memberikan custom declaration form. Aku menanyakan tentang form masuk – keluarnya, dan dia jawab tidak perlu.  “Oh good.  Sama dengan WNI keluar masuk Indonesia.  Tanpa Form”.

Saat di Imigrasipun  petugas tidak terlalu tegang. Dia lebih banyak berbincang santai dengan Sara tentang sekolah dan I20nya. Mungkin karena record kita ke USA juga baik, sehigga  hanya membutuhkan  5 menit untuk memproses imigrasi kita sekeluarga (berempat) sekaligus  mencek I20.  Seperti biasa, ada cap masuk pada paspor masing-masing.  Lancar …





Isu tentang I94 ini keluar saat Sara mulai mengurus administrasi untuk Colorado ID di Boulder,  Colorado.  Mereka minta form I94. Dan aku bilang  Sara tidak punya. Aku berpikir keras, apa yang keliru dari listku. Kecuali security number, rasanya semua sudah lengkap. Terimakasih untuk teknologi, melalui smart phone, kita mencari tahu apa sebenarnya I94 itu.  Dan ternyata I94 adalah form masuk keluar imigrasi, mencatat keberadaan pendatang di USA.  Sejak setahun terakhir, pemerintah tidak mengeluarkan lagi form tsb,  tetapi mempergunakan sistem elektronik.  Datanya dapat diambil dan diperlihatkan melalui smart phone. Ternyata si petugaspun tidak mengetahui pembaharuan sistem ini. 
Setelah memperlihatkan data I94,  masalahpun clear,  Colorado ID berhasil diproses (seminggu kemudian sudah jadi).

Saat kepulangan tiba.  Sara tetap tinggal di Denver.  Agustus dia sudah mulai kuliah.  Tetapi tiket kepulangan Sara sudah terlanjur dibelikan (saat membelinya aku secara otomatis membelikan tiket pp). Jika diopen harus menambahkan sekitar $750, dan hanya berlaku hingga Desember 2014.  Sara  sudah memutuskan tidak akan pulang ke Indonesia di December ini.  Sayang juga ya kalau tidak terpakai,  Bagaimana kalau tetap dilakukan online check-in  agar tempat duduknya  tidak dijual kepada orang lain lalu bisa dipergunakan untuk adeknya tiduran. Atau siapa tahu Sara berubah pendapat dan masih mau pulang lagi ke Jakarta?  Lalu aku lakukan online check-in atas nama Sara.

Di imigrasi JFK,  aku mengalami keheranan lagi.  Kita melalui imigrasi, tetapi tidak dilakukan proses cap paspor.  Petugas tidak berada pada meja box angker itu lagi.  Dia berdiri dan memeriksa paspor serta tiket.  Kemudian kita masuk ke proses body check.  Aku sampai bertanya ke suamiku : “Lho proses imigrasinya sudah?”. 

Saat terakhir pemeriksaan manifes penumpang di dalam pesawat, pramugara menanyakan apakah Sara ada?.  Suamiku menjawab dia tidak jadi ikut.  Dari situ kita sudah merasa lega karena semua sudah berjalan lancar dan kita siap untuk pulang ke Jakarta. 

Isu berikutnya justru muncul beberapa hari belakangan, sesudah aku berada 2 minggu di Jakarta.  Saat Sara mengurus driving license, ternyata I94nya sudah tidak ada pada sistem. Di sana tercatat Sara sudah keluar dari USA pada 12 July 2014.  Padahal sesungguhnya fisik Sara masih di Denver. 
Setelah ditelusuri ternyata proses baru ini ini memang mudah, tetapi juga menggantungkan data kepada data carrier.  Saat itu I94 sudah ditarik, karena Sara sudah melakukan check-in online untuk penerbangan QR 702.  Dengan check-in pesawat, Sara sudah dianggap pergi dari USA.   Jadi data manifes terakhir tidak diupdatekan oleh pihak Qatar kepada Imigrasi USA. 

Untuk menyelesaikannya,  dibutuhkan klarifikasi dan interview dengan pihak imigrasi dan dmv USA. Tentunya hal  ini membutuhkan banyak waktu lagi untuk mengurusnya.  Semuanya terjadi karena ketidak tahuan semata.
Namun demikian dari semua kejadian ini memberikan pelajaran dan pengetahuan tentang sistem baru imigrasi USA.  Disimpulkan bahwa data masuk pendatang melalui imigrasi (dicap paspor, sidik jari, interview),  data keluar melalui data dari carrier (penerbangan / kapal), tanpa cap lagi di paspor.  

Pagi ini aku email Qatar Indonesia untuk memberikan data manifes penumpang terbaru QR702, 12 July 2014,  kepada Imigrasi USA.  Semoga mendapat respon yang baik.  Menghubungi Qatar Indonesia bukanlah hal yang mudah melalui telepon.  Berdasarkan pengalaman,  kita menelpon nomor kantornya bisa puluhan kali dan tidak ada yang mengangkat. Sampai akhirnya melalui mr Google berhasil mendapatkan alamat email kantornya.  Saat kita mengirimkan email, akan ada petugas yang menelpon kita sebagai bentuk  respon mereka. 

Semoga semua dapat terselesaikan dengan baik.  Sehingga keberadaan Sara disana dapat tercatat dan pengurusan berbagai administrasi dapat terselesaikan tepat waktu. 

Terimakasih kepada om Eric dan tante Ucie yang banyak meluangkan waktu untuk mengurus kakak Sara.  Pengambil alihan peranan orang tua sudah mulai berjalan J . Selamat menjadi orang tua. 


Update terakhir jawaban dari pihak Qatar Airlines (hanya berselang 3 jam dari pengiriman emailku) 


Dear Ibu Celerina,

Terima kasih atas emailnya,

Untuk status reservasi atas nama Ibu Sara marsintauli saat ini sudah tidak aktif sebab Ibu Sara tidak berangkat pada tanggal 12Jul dari JFk-CGK via Doha dan data di electronic tiketnya ibu Sara
Juga masih tertera tanggal 12Jul dengan rute JFK-CGK, tiket tersebut masih bisa digunakan sampai dengan tanggal 01Sep. detail sbb :

TKT-1572312950857        RCI-                     1A  LOC-4MPAJL               
 OD-JKTJKT  SI-      FCMI-N   POI-JKT  DOI-18APR14  IOI-15824830               
   1.MARSINTAULI/SARA MISS     ADT            S I                              
 1 OCGK QR 955   Q 02JUL0010 OK QPFRID        F        01SEP 2PC               
 2 XDOH QR 701   Q 02JUL0815 OK QPFRID        F        01SEP 2PC               
 3 OJFK QR 702   Q 12JUL2300 OK QPFRID        O   05JUL01SEP 2PC               
 4 XDOH QR 956   Q 14JUL0125 OK QPFRID        O   05JUL01SEP 2PC               
    CGK                                                                        
FARE   I               IT                                                       
TOTALTAX USD       470.50                                                      
TOTAL                  IT                                                      
/FC JKT QR X/DOH QR NYC M/IT QR X/DOH QR JKT M/IT END XF JFK4.5                 
FE PAX VALID QR SERVICES ONLY NONEND / JKTP091 -BG QR/4MPAJL1704               
14                                                                             
FP CCCAXXXXXXXXXXXX3305/1215/N801904                                           
FT JKTP084                                                                     
NON-ENDORSABLE                                                                 
FOR TAX/FEE DETAILS USE TWD/TAX                                                
NET REPORTING IT/BT                                                            
SAC-MULTI/USE TWH

          
Status tiket tersebut menyatakan masih “O” yang mana itu artinya adalah tiket masih belum digunakan.
Berikut update terbaru dari kami.


Best regards,

Andy Jaya Setianto
Sr. Reservation Ticketing Agent

Tel : +62 21 2358 0622
Fax: +62 21 2358 0611

World's 5-star ariline.qatarairways.com

Terimakasih Qatar,  semoga datanya dapat diteruskan ke Imigrasi USA.

Senin, 20 Januari 2014

BEKERJA pada ERICK THOHIR



Apa  respon orang jika  nama ini disebutkan :  Erick Thohir ?
Sebagian besar akan secara spontan  berkata :  Gila tuh orang.
Gila karena sakit  jiwa? Tentunya bukan!
Gila karena lompatan energinya berhasil menempatkan seorang Erick Thohir menjadi salah satu pemilik klub bola papan atas Italia – Inter Milan.  Bahkan terpilih menjadi Presiden klub tersebut.

Seorang teman berkali kali mengatakan kepadaku : “Gila kak,  ini kan Inter Milan.  Dan dia orang Indonesia.  Masih sesuatu yang fantastis di otak gue.  Kerja dengan dia bagaimana sih?”

Bagaimana? Selalu baik. 
Aku akan sangat lancar menceritakannya. 

Mengenal Erick Thohir pertama kali di 6,5 tahun lalu.  Saat itu peralihan kepemilikan PT Lativi Mediakarya dari Abdul Latief ke Bakrie Grup.  Beliau menjadi Presiden Direkturnya.  Sebelumnya aku mengetahui namanya hanya  sekelibatan sebagai pemilik JakTV.  Lalu pada pertemuan pertama   aku  mendapati seorang  muda yang energik dan ramah, mendatangi dan menyalami semua karyawan.  Kami memanggilnya dengan nama : pak Erick. 

Sebagai seorang karyawan, aku hanya berpikir bagaimana mampu mempertahankan seluruh tim pada masa transisi kepemilikan ini.
Saat itu aku memegang promo On-air dan Off-air.  Seringkali juga terlibat dalam diskusi2 program acara dan kebutuhan marketing.   Apakah akan ada tim baru sebagai pengganti?  Atau akankah ada seleksi?
Aku selalu menekankan hal ini pada seluruh anggota : bekerja konsisten  dengan kualitas yang baik.

Secara rutin  Pak Erick datang pagi.  Berkeliling kantor,  menyapa setiap orang. Yang kuingat hingga saat ini adalah kaos polo hitam,  jeans, dan sepatu hitamnya.   Menyebarkan keramahan dan semangat.  Mungkin juga untuk mengkikis banyak rasa saling curiga di masa itu. 
Pernah satu pagi aku sedang duduk santai di meja,  memberikan briefing kepada beberapa staf,  beliau lewat.  Tentunya aku segera turun dari meja, karena memang tidak layak.  Tapi pak Erick mengatakan : “Ngak papa,  terusin aja. Santai aja.  Saya ikutan ya ”.   Judul  saat itu menjadi  “briefing bersama boss dgn duduk di atas meja dan kaki di kursi”

Tugas harian tetap berjalan. Pak Erick memintaku mempresentasikan apa saja yang sudah dilakukan oleh tim promo,  cakupan pekerjaan dan struktur organisasinya.  Aku rasa semua departemen melakukan hal yang sama.  Lalu sebagai umpan balik beliau meminta aku mengembangkan konsep program anak melalui on-air dan off-air promo.   Aku  mempersiapkan sebaik-baiknya, termasuk perhitungan penempatan materi promo pada slot  on-air.  Kebetulan aku memang senang membuat materi presentasi dan analisis2.   Belakangan hari aku memperkirakan bahwa ini adalah cara beliau untuk mengetahui kapabilitas dan kemampuan masing2 stafnya.   Mungkin nilaiku cukup baik, karena saat terjadi restrukturisasi,  aku mendapat tugas  tambahan untuk mengurus post pro/ graphic.   Saat  tugas ini diberikan ada kekisruhan karena sebagian besar anak-anak post pro itu menolak berada dibawah kepemimpinanku.  Aku sendiri tidak terlalu perduli.  Mungkin mereka tahu kalau aku sangat nyinyir dan  demanding. Hanya aku bingung,  bisa ya perintah atasan dibatalkan.  Pada akhirnya aku menolak  karena aku  lebih berkonsentrasi pada hal yang sudah ada didepanku.  Impresiku untuk hal ini :  pak Erick sudah mulai mempercayaiku.

Tantangan lain kembali dilemparkan oleh beliau : memimpin tim launching tvOne.  Aku?  Aku berhitung kembali dengan cermat.  Pekerjaan bukan masalah. Yang terlihat akan  menjadi hambatan adalah  menyatukan orang-orang besar pertelevisian.  Ada Karni Ilyas,  Nurjaman,  Toto,  Alex Kumara,  Otis Hahijari.   Aku menegosiasikan posisi ini dan memilih untuk menjadi wakil pimpinan saja.  Tetapi aku bersedia memimpin  koordinasi lapangannya.   Komite mau menerima alasanku dan menempatkan Pak  Teuku Chairul  yang lebih senior untuk mengambil tanggung jawab proyek ini.  Aku bisa bekerjasama baik dengan pak Teuku. 

Yang menarik adalah saat pak Erick memanggilku  dan menanyakan perihal gaji.  Aku bisa menangis.  Karena selama ini aku bekerja mati-matian,  tidak ada yang pernah menanyakan masalah sensitif ini.   Biasanya adalah pernyataan : kalau gaji kamu kecil, ya salah sendiri.  Kenapa negosiasi awalnya segitu.  Jadi tunggu saja kenaikan tahunan.  Bahkan dengan beberapa stafku, angkaku ada dibawah  mereka.  Lalu pak Erick  mengatakan : “Kerjakan launching ini dengan baik.  Saya akan berjuang untuk kamu”
Apa yang bisa aku katakana tentang hal ini?  Aku tercengang.  Tentu saja tanpa diminta aku akan sekuat tenaga  berjuang agar launching ini berhasil.  Tidak hanya saat event peluncuran, tetapi juga pencapaian persepsi target penonton.   Lalu,  bapak satu ini mengatakan akan memperjuangkanku! 

Dan janjinya itu beliau tepati.  Saat semuanya berjalan baik,  angkaku naik hampir 100%! .  Ada satu direksi yang berkomentar : “Kamu naiknya paling tinggi tahuuu” .  Lalu pak Erick menjawab santai : “Nah, kamu yang keterlaluan menggaji dia kecil banget”.  Hahahaa,  mengabdi 6 tahun dengan bekerja hampir 24 jam sehari,  dan baru saat itu mengetahui bahwa gaji dan kemampuanku sangat tidak sepadan.    

Dalam proses event tsb, ada satu hal lagi yang aku pelajari : kerendahan hati.  Saat tvOne membutuhkan Melly Goeslow  untuk menciptakan lagu korporat, aku berhasil menghubungi manajernya pada jam 10 malam.  Jawabannya cukup menyebalkan : “Punya dana segini ngak.  Kalau ngak ada, lupain aja”. Rasanya mau aku gebok.  Ya pasti adalah.  Aku meluapkan kekesalan ini dengan mengirim sms ke pak Erick.  Jam 12 malam beliau menelepon : “Sabar …  kita merendah saja.  Memang ini adalah keahlian mereka.  Kita yang butuh”.    Dengan kerendahan hati, akhirnya bisa terlaksana juga penciptaan lagunya.  Aku menuliskan liriknya,  Melly merevisi sesuai dengan melodi.   Akupun berbaikan dengan sang manajer yang jutek itu. 

Setahun setelah peluncuran aku mengajukan pengunduran diri.  Kebetulan bisnis keluargaku mulai berkembang.  Pengunduran diri ini  tidak serta merta disetujui.   Baru sesudah  4 bulan, surat  resignku   di acc.   Itupun karena pak Erick  yang mengingatkan : “Kasianlah, tandatangani tuh”.

Tiga bulan merasakan kebebasan,  tiba-tiba ada sms masuk :  “Bisa  bicara?”  dari Erick Thohir.   Tentu saja bisa pak.  Beliau menawarkan untuk mencoba bergabung di Mahaka Group.  Kebetulan ada proyek yang cocok dengan kemampuanku.  Aku bersedia untuk mencoba. 
Babak baru dimulai.  Kali ini bekerja  pada group milik  Erick Thohir. 

Mengerjakan proyek yang masih belum jelas.  Aku merasa sebenarnya pak Erick ingin memberiku kesempatan untuk berkreasi.
Lalu pada suatu pagi  beliau menelpon  : “Mau bantu membuat tivi lagi?”
Meluncurlah pada timeline yang tepat  aliftv – saluran muslim pada telkomvision.  Pada saat  menyiapkan launchingnya , ada diskusi tentang bentuk acara.  Kalau nyanyian dan tarian sudah umum.  Bagaimana jika film pendek ?   Pak Erick selalu melemparkan tantangan baru  untukku.  Aku rasa beliau sudah memahami, bahwa aku adalah orang proyek yang selalu mau mencoba hal baru.  Aku mencari tahu siapa sutradara terbaik untuk film Islami.  Satu nama yang keluar Hanung Bramantyo.  Lalu mengejar sutradara ini dan berhasil menemuinya di Transtv.  Orangnya ternyata sama juteknya dengan manajer Melly. Hahahaha.  Tapi aku sudah belajar sabar.   Pertanyaannya juga sama : “Punya segini ngak budgetnya? Kalau ngak, ngak bisa”
Aku juga ngotot : “Aku ngak punya segitu,  tapi aku mau mas Hanung yang bikin”.  Mas Hanung melunak melihat kegigihanku.  Dan berhasil!   Film pendek berjudul “Apa itu Islam” diapresiasi banyak orang.  

Dari keberhasilan ini,  bergulirlah ide gila lainnya : ayo membuat film layar lebar.  “Kamu pilih dimana? TV atau film?” .  Jarang-jarang ada pilihan pekerjaan yang dilemparkan oleh owner.  Dengan segala pertimbangan dan keterbatasaku jika  berada di saluran muslim,  aku memilih untuk membantu pak Erick di film. 
Aku belum mengatakan kepada pak Erick bahwa film adalah impian lamaku. Dan tiba-tiba beliau membukakan pintu itu padaku.  Aku juga belum menyampaikan rasa terimakasih untuk hal ini.  Mungkin tidak perlu disampaikan,  yang terpenting melakukan semuanya dengan baik dan profesional.

Babak baru lagi : Mahaka Pictures!   Banyak pelajaran baru : film bukan hanya perihal filmnya sendiri.  Banyak hal lain.   Diperlukan kreatifitas, kesabaran, keuletan, strategi. Terlebih jika sang film menghadapi gempuran komentar ataupun tuntutan hukum.   Aku rasa aku berada di tim yang sangat baik.  Pekerjaan ini lebih banyak berupa virtual team. Pada intinya adalah aku seorang diri, lalu seluruh group memberikan dukungan.  Siapa yang harus masuk, siapa yang harus menegokan dll.  Pak Erick juga turun tangan langsung untuk hal-hal yang sangat penting.  Aku menjadi lebih matang menghadapi banyak hal.  Bertempur bersama para lawyer,  teman publikasi dll.  Seperti saat film Tanda Tanya dan Soekarno.  Dua film yang tidak biasa. Lalu ada film lain yang sedang kuperjuangkan untuk dapat ditayangkan pada awal tahun ini.  Sungguh membutuhkan kemampuan negosiasi tingkat tinggi terkait kontennya.  Pak Erick berulang kali mengingatkanku  : “Sabar … “   

Sangat lancar kan menceritakannya. 
Apakah ada perubahan dengan keterlibatan pak Erick di Inter Milan?
Ada. 
Yang terasa jelas adalah waktu beliau sudah terpecah antara Indonesia dan Luar negeri.   Walaupun intensitas komunikasi masih terjaga melalui email dan sms,  namun tidak mudah lagi menemui beliau .

Yang tidak hilang  walaupun dia adalah seorang  Presiden Inter Milan adalah sms sopannya : “Free?” atau “Bisa bicara?” J

Disela jadwalnya yang padat,  pada pertemuan lalu beliau memberi wejangan :  yang terpenting adalah integritas seseorang.  Kejujuran dan loyalitas. 

Aku sudah merasakan sepanjang  6,5 tahun ini.  Seorang Erick Thohir akan memperjuangkanmu jika kamu  memiliki integritas yang tinggi.  Tentunya  juga dengan perbaikan diri berdasarkan  masukan  beliau atas kekurangan kita. 



Kamis, 16 Januari 2014

Selamat Ulang Tahun Ayesh.


Sejam menjelang 17 Jan 2014. 
Sejam menjelang 12 tahun usia Ayesh. 
Rasanya waktu berlari dengan sangat cepat.  12 tahun?  Merenung … sambil  memandangi seksama wajahnya yang lelap. Dia beranjak dewasa. 

Kata syukur untuk kebahagiaan memiliki Ayesh. 
Namun masih  diikuti dengan bisikan kata“maaf”  di telinganya 
Selalu saat ayesh nyenyak. 

Maaf  ya dek, karena mami pernah menangis saat mengetahui kehadiranmu di perut mami. Mami begitu trauma akan proses kelahiran pertama yang kurang lancar.  Itu yang membuat jarak usia Ayesh dan kakak cukup jauh.  Mami tidak siap melalui proses yang sama. 

Maaf  karena pernah hampir kehilangan Ayesh saat  kecelakaan.  

Ingatanku berlari ke saat2 awal kehadiran Ayesh di perut. 

Hasil USG memperlihatkan bahwa janin yang kukandung perempuan.  Jadi ini adalah  anak perempuan kedua.  Kehamilan yang tidak terlalu merepotkan,  aku bahkan mempunyai energi yang tinggi untuk bekerja. 
Saat kandungan berusia 4 bulanpun aku masih menyetir mobil panther sendirian pulang pergi Jakarta - Bandung.  Seringkali pada malam hari,  melalui jalur Puncak atau Cikampek. Dari Bandung jam  21.00, sampai Jakarta jam  24.00. Kalau ada keinginan untuk muntah karena mualnya kehamilan, aku akan berhenti sebentar di warung sate Shinta di Cipanas. Setelah reda,  langsung tancap gas lagi. 

Mengapa Jakarta-Bandung?  Karena aku bekerja di jaringan restoran yang berkantor pusat di Bandung dan  memiliki cabang di Jakarta. Keluargaku tinggal di Jakarta.  Sehingga perjalanan pulang pergi ini kerap aku lakukan. 

Aku mengingat juga, salah satu tanggung jawab pekerjaanku adalah mengurus signage restoran.  Diantaranya adalah pemasangan di atap gedung Sarinah, Thamrin.  Saat itu ada masalah terkait dengan lampu dan beberapa kendala lainnya.  Dalam kehamilan 5 bulan  aku masih naik tangga luar gedung yang curam untuk mencapai atap Sarinah.   Kebetulan saat di atas atap suamiku menelpon.  Dia sedang melalui jalan Thamrin.  Aku bilang aku di atap gedung Sarinah.  Dengan santai dia bertanya : “Keliahatan ngak kalau dadah dadah?”
Lalu aku dadah-dadah. 

Berselang 10 menit, temanku Kadir  menelepon : “Mbak sedang dimana?”  Aku menjawab sama :”Di atas atap Sarinah”.   Kali ini aku menerima respon yang berbeda : “ Ya ampun mbakkkk.  Ngak mikir perutnya? Turun sekarang!”  

Saat kandungan berusia 7 bulan, aku mengundurkan diri  dari perusahaan makanan itu.  Lalu membantu teman pada berbagai proyek.  Salah satunya adalah pembuatan film dokumenter   budidaya tanaman di Garut.  Aku lupa apa namanya. Tetapi tanaman itu bisa menghasilkan bahan minyak wangi dan dapat dibuat kertas.   Dengan perut gendut aku melakukan perjalanan Jakarta – Bandung – Garut untuk  survey awal.  Kadang dari Bandung ke Garut aku naik mobil angkutan umum dari terminal.  Dengan perut gendut, aku menikmati semuanya.  Lalu di Garut aku menginap di rumah ibu Haji yang berdampingan dengan pesantren.  Aku lupa siapa namanya. Ibu Haji ini adalah pemilik perkebunan tanaman yang akan kudokumentasikan.  Aku tidak masalah tidur di kasur yang tipis.  Yang agak menghambat adalah toilet jongkoknya.  Karena perutku besar sekali.

Sesudah survey awal diputuskan untuk membawa tim produksi meninjau lokasi langsung.  Tempatnya di puncak gunung. Tidak tinggi, namun  diperlukan mobil jeep yang mampu naik ke atas.  Aku berhasil mendapatkan Trooper pinjaman.  Dengan perutku ini,  aku ikut di mobil dan duduk di belakang.  Ternyata jalan ke atas cukup terjal.  Goncangan Trooper  cukup kuat untuk  seorang ibu hamil.  Tapi aku tidak mau merasakan.  Hingga tiba-tiba tali kopling Trooper itu putus pada saat menanjak.  Teman-teman kesulitan menarikku dari bagian belakang mobil.  Karena aku berat dan posisi mobil pada kemiringan yang cukup tajam. Susah sekali mau turun!   Dan sesudahnya aku harus jalan kaki  cukup jauh untuk bisa mencapai tempat landai.  

Berhasil mencapai tempat itu,   tim harus naik lagi ke atas.  Jadi aku ditinggal sendiri di tengah hutan kayu! Aku dan anakku di perut.  Hanya bisa merenung sambil memandangi rumah2 yang terlihat jauh di bawah.  Beberapa kali ada orang yang lewat sambil membawa sayuran.  Satu yang membuatku takjub adalah lewatnya seorang ibu hamil,  dengan perut sebesar perutku.  Memakai sepatu lars plastik kusam, dia menggendong karung berisi kubis!   Aku menyapa dan bertanya,  dia mengatakan dari rumahnya di bawah sana jam 4 subuh.  Sedangkan waktu itu sudah jam 10 pagi!  Dia masih harus membawa karung kubis ke desa lain disisi lain gunung.   Aku hanya bisa tercengang.   Ternyata masih ada perempuan lebih sakti dan dia melakukannya dengan riang gembira.   Wanita itu memberiku semangat.  Sehingga saat pak mantri hutan lewat dengan motor trail, aku minta diboncengkan ke bawah.  Kata-kata pak mantri itu selalu kuingat : “ Aduh eneng, ieu teh siga mawa endog”  hahahaha. 

Kapok? Tentu tidak. 
Seminggu kemudian produksi dilakukan. Aku bersama tim naik mobil kijang ke Bandung.  Berhenti sebentar di TVRI Bandung untuk mengangkat peralatan shooting.  Mobil cukup penuh.  Aku duduk di depan.  Yang membawa mobil teman kameramen senior dari RCTI.   Dari situ kita langsung ke Garut.  Aku ingat sekitar pukul 23.00.  Rasanya sudah mulai lelah.  Aku agak terlelap, ketika tiba-tiba merasakan ada guncangan keras,  lalu mobil terlempar ke jalur lain.  Aku melihat sebuah mobil dari jalur ini datang cepat menghantam mobil kijang.  Hampir mengenai posisiku, tetapi karena kijang masih tergelincir terus, maka  mobil itu menabrak bagian belakang kijang dan membuat kijang berputar lalu terdorong  keluar jalan.  Hampir menghujam sawah!  Tapi Tuhan masih mau memberiku hidup.  Mobil dapat berhenti.

Aku  terdorong ke bawah, karena semua peralatan shooting maju ke depan.  Antara sadar dan tidak tentang apa yang telah terjadi.  Temanku reflek memegang perutku.  Aku merasakan mulas, karena perutku mengalami dorongan luar biasa.  Laluada kotoran yang keluar.   Kemudian teriakan orang-orang   dan muka2 mereka pada kaca.  “Aya nu maot nteu”  

Aku mau keluar  dari mobil  ketika melihat wajah bapak tua.  Beliau ternyata seorang haji.  “Ini di Soreang neng”.  Lalu beliau membantuku pergi ke RS Boromeus  Bandung untuk memeriksakan kandunganku. 
Kecemasan luar biasa karena rasa takut kehilangan  si kecil. 
Ternyata si kecil sangat kuat.  Detaknya masih kencang.  Tuhan masih memberiku kesempatan untuk memiliki dia. 

Dan aku mensyukuri setiap detiknya. 
Semakin mensyukuri setiap harinya.  

Saat tulisan ini akan kuakhiri 
Sudah genaplah 12 tahun.  

Selamat ulang tahun ya  Ayesh. 
Bertumbuh dalam  rasa cinta dan kasih. 
Selalu dalam berkat dan lindungan Tuhan.  


*Tulisan ini juga untuk menyemangati para ibu hamil agar  tetap aktif dan pantang menyerah.  
Hamil bukan alasan untuk menjadi lemah atau membuat pengecualian.  Asalkan semuanya dilakukan dengan kehati-hatian.